Digdaya Kepengurusan: Basis Data Nasional 61.000 Ranting NU
PBNU, Digital Transformation Team · 2024–2026
Cara saya mendekati proyek ini
Sebagai designer, saya punya banyak referensi soal bagaimana layout dan flow 'seharusnya' dibentuk. Tapi di proyek ini, idealisme itu sering harus dinegosiasikan ulang, karena mayoritas pengguna Digdaya Kepengurusan adalah pengurus NU di berbagai tingkatan, dari pusat sampai ranting dan anak ranting, yang belum tentu terbiasa dengan aplikasi digital.
Saya juga memakai tools AI (Google AI Studio, Claude) untuk mempercepat proses prototyping, tapi dengan batasan yang saya pegang sendiri: AI mempercepat eksekusi, bukan menggantikan keputusan desain. Kalau saya biarkan berjalan otomatis tanpa saya kontrol, kualitasnya justru turun.
Konteks
Digdaya Kepengurusan diluncurkan langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf pada 29 Mei 2025, sebagai bagian dari ekosistem Digdaya NU yang dimulai Agustus 2024 lewat Digdaya Persuratan.
Fungsinya adalah basis data pengurus NU nasional berbasis SK resmi. Setiap pengurus mendapat Nomor Induk Anggota (NIA), terintegrasi dengan sistem kaderisasi nasional (Siskader), dan dilengkapi modul penilaian kinerja mandiri untuk Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang di 8 indikator: perkumpulan, aset, aktivitas, administrasi, keagamaan, pendidikan, kesehatan, BUMNU.
Skalanya besar. Target akhirnya adalah menghubungkan 61.000 ranting di seluruh Indonesia ke sistem Digdaya NU. Ketua Tim Transformasi Digital PBNU, Arief Faqihudin, menyebut Digdaya bukan sekadar aplikasi, tapi fondasi budaya digital baru di lingkungan NU yang menyatukan data, kaderisasi, kinerja, dan pelayanan publik ke dalam satu sistem.
Peran saya
Saya berperan sebagai Product Designer, merancang arsitektur sistem dari sisi produk dan desain bersama dua PM, Unggul Nugroho dan Arief Faqihudin, sebelum masuk ke tahap prototyping dan eksekusi desain hi-fi.
Tantangan
Tantangan terbesar bukan di eksekusi visual, tapi di iterasi. Fitur yang sudah selesai dibangun sering ditantang kembali: apakah ini benar-benar sesuai dengan persona pengurus NU?
Masukan sering datang langsung dari pengurus atau kepengurusan di lapangan, dan itu memaksa kami memikirkan ulang cara fitur tersebut disajikan ke end user, bukan sekadar merapikan tampilan, tapi kadang mengubah struktur interaksinya dari awal.
Beberapa keputusan kunci
Satu jalur navigasi, bukan banyak pintu
Di dashboard eksekutif 5-zona, saya menetapkan aturan bahwa semua filter data harus lewat scope bar global, tanpa drilldown lokal per-chart.
Alasannya sederhana: kalau tiap chart punya filter sendiri, user (yang sebagian besar bukan pengguna dashboard analitik sehari-hari) akan kehilangan jejak filter mana yang sedang aktif.
Trade-off-nya, fleksibilitas eksplorasi data jadi lebih terbatas, tapi konsistensi dan kejelasan lebih penting untuk audiens ini.
Memisahkan yang terlihat sama, tapi sebenarnya berbeda
Awalnya, fitur deteksi identitas ganda dan validasi jabatan (AD/ART compliance) direncanakan jadi satu modul.
Saya angkat concern bahwa ini dua masalah berbeda. Identity merging itu soal data duplikat, sementara AD/ART compliance itu soal audit kepatuhan yang seharusnya berjalan di semua akun, bukan cuma saat ada indikasi duplikat.
Kami akhirnya memisahkan keduanya jadi modul independen.
Satu pintu masuk, bukan empat tombol setara
Halaman Data Pengurus awalnya punya empat CTA hijau dengan bobot visual yang sama: Export, Import, Tambah Pengurus, dan Tarik Data Pengurus.
Untuk pengguna yang belum tentu paham istilah-istilah ini, empat pilihan setara itu membingungkan, bukan membantu.
Solusinya adalah satu CTA utama “Tambah Pengurus” yang membuka sub-pilihan: import data, tarik data, atau input manual satu per satu.
Prinsipnya: sembunyikan kompleksitas sampai user benar-benar butuh melihatnya.
Kompleksitas yang muncul bertahap
Prinsip yang sama saya terapkan ke aksi sekunder seperti Export dan Import di halaman yang sama.
Tombol-tombol ini baru muncul atau aktif setelah ada data pengurus, bukan ditampilkan semua sejak awal.
Ini konsisten dengan pola “Generate NIA” yang sudah ada di sistem, jadi user tidak perlu belajar dua logika berbeda di halaman yang sama.
Dampak
Digdaya Kepengurusan sekarang dipakai oleh pengurus NU dari berbagai wilayah, cabang, hingga cabang istimewa di luar negeri, dengan target jangkauan 61.000 ranting di seluruh Indonesia.
Sistem penilaian kinerja mandiri yang ikut saya rancang kini menjadi salah satu instrumen PBNU untuk memetakan kondisi riil struktur organisasi tanpa harus menugaskan asesor secara fisik ke tiap daerah.
Yang saya pelajari
Proyek ini mengajarkan saya bahwa desain yang baik untuk organisasi sebesar NU bukan soal menerapkan best practice UI secara kaku, tapi soal terus-menerus mengecek ulang asumsi terhadap realita pengguna di lapangan, dan tahu kapan harus memakai AI untuk mempercepat proses tanpa membiarkannya menggantikan penilaian saya sebagai designer.