Digdaya NU App: Dari Aplikasi Persuratan ke Super App
PBNU, Digital Transformation Team · 2024–2026
Konteks
Digdaya NU App awalnya lahir sebagai aplikasi pendamping Digdaya Persuratan saja, fokus di urusan surat menyurat digital. Seiring ekosistem Digdaya berkembang, PBNU mengarahkan aplikasi ini untuk tumbuh jadi platform layanan digital yang lebih luas, tidak cuma untuk keperluan administratif pengurus, tapi juga untuk kader dan jamaah NU secara umum.
Peran saya
Saya memimpin overhaul UI/UX secara menyeluruh untuk aplikasi ini, dengan tujuan membuatnya terasa lebih modern, lebih mudah digunakan, dan fresh, sekaligus menambahkan fitur baru yang mengubah karakternya dari aplikasi tunggal menjadi super app. Fitur yang saya tambahkan antara lain AINU (asisten AI seputar NU), Masjid (pendataan dan aktivitas masjid), Video, dan Berita, semuanya di luar cakupan awal aplikasi yang cuma menangani persuratan.
Tantangan
Tantangan utamanya adalah menyatukan karakter fitur yang sangat berbeda satu sama lain dalam satu aplikasi tanpa membuatnya terasa seperti tempelan. Persuratan itu formal dan berbasis dokumen, AINU itu percakapan dan berbasis AI, Masjid itu direktori dan pendataan, Berita itu feed media. Keempatnya punya pola interaksi yang berbeda, tapi harus terasa sebagai satu ekosistem yang koheren, bukan empat aplikasi berbeda yang digabung paksa.
Keputusan kunci
Di layar utama, saya menyusun ulang shortcut menu jadi grid delapan modul (Buat Dokumen, Periksa, Tanda Tangan, Stempel, Surat Masuk, Memo, Disposisi, dan Lainnya) yang tetap mempertahankan fungsi inti persuratan sebagai pusat gravitasi aplikasi, sambil menyisakan ruang untuk fitur-fitur baru lewat banner promosi dan menu Lainnya, tanpa membebani halaman utama dengan terlalu banyak entry point sekaligus.
Untuk Berita, saya rancang dengan filter kategori (Pendidikan, Falakiyah, Kesehatan, Kebencanaan, dan seterusnya) di bagian atas, supaya pengurus bisa langsung menyaring konten yang relevan dengan perannya, alih-alih menyisir feed berita umum yang campur aduk.
Fitur yang paling kompleks yang saya kerjakan adalah alur eKYC untuk verifikasi identitas KARTANU, sistem 12 layar mulai dari consent, unggah KTP, konfirmasi data OCR, pengambilan selfie, deteksi liveness, sampai layar hasil. Saya putuskan memakai stepper berbasis fase (Dokumen, Wajah, Selesai) alih-alih stepper per layar, supaya proses retry atau pengambilan ulang foto di dalam satu fase tidak membuat progress bar terlihat maju mundur dan membingungkan pengguna. Saya juga menetapkan batas maksimal 3 kali percobaan untuk tiap tahap kritis (foto KTP dan verifikasi wajah), dengan jalur alternatif yang jelas setelah batas itu terlampaui: foto KTP gagal diarahkan ke input manual, sementara verifikasi wajah gagal diarahkan untuk menghubungi Admin PMO.
Dampak
Digdaya NU App kini menjadi pintu masuk utama pengurus NU ke seluruh ekosistem Digdaya, termasuk fitur AINU dan Masjid yang sudah live dan dipakai secara aktif. Testimoni dari lapangan menyebutkan penghematan biaya operasional yang signifikan sejak ekosistem Digdaya hadir, termasuk pengurangan anggaran ATK hingga 50% di beberapa PCNU, karena proses yang dulunya manual sekarang berjalan lewat aplikasi ini.
Yang saya pelajari
Proyek ini mengajarkan saya bahwa mengubah satu aplikasi fungsional jadi super app bukan cuma soal menambah menu baru, tapi soal menjaga supaya penambahan itu tidak mengorbankan kejelasan fungsi inti yang sudah dipercaya penggunanya sejak awal. Fitur baru harus terasa sebagai perluasan alami, bukan gangguan terhadap alur kerja yang sudah berjalan baik.